HARI SETELAHNYA
Setelah kamu mengucapkan kata itu, hari-hari
hidupku sudah berbeda. Berbeda entah senang atau duka tapi bertahap selalu
dilalui. Terkadang ada rasa aku harus bangkit. Aku tak mau hari-hariku berubah
suram karena kamu. Meskipun kadang aku berpikir kamu cuma orang lain dihidupku
saat ini. Tapi memang betul, begitu sulit mewujudkan untuk bangkit seperti
dahulu.
Jujur dalam hati, sosokmu masih terbayang dalam
angan-angan. Masih begitu nampak pada bayangan lamunanku. Masih terbayang saat
kita saling becanda bersama, makan bersama, saling tukar cerita ketika tamat membaca
novel, dan walaupun kamu juga pernah mengecewakanku saat
tidak datang di bithday partyku karena alasan tak masuk akalmu. Mungkin karena
kamu berbeda dari sebelum-sebelumnya, sehingga begitu sulit untuk dilupakan.
Sungguh hati ini begitu menolak untuk menerima.
Tak ingin menerima kenyataan bahwa nanti esok, hati ini sudah tak berdebar
hebat lagi saat disampingmu. Akan begitu hampa esok-esok lusa yang akan datang.
Aku akan lebih sering menghindar saat berada ditempat yang sama denganmu. Aku
juga akan menjadi orang bisu sejenak saat orang lain bertanya tentang hubungan
kita. Lalu aku juga akan belajar menerima kenyataan didepanku. Memandangmu
bersama dia saat kalian ketawa,saat kalian saling cubit hidung, dan juga saat
kalian berada diatas motor saling dekap mendekap. Itu semua aku akan mencoba
melatih menerima kenyataan bahwa kamu sudah tidak lagi milikku melainkan kamu
sudah menjadi sosok masa lalu dan sekarang kamu sudah berpaling menjadi
miliknya.
Komentar
Posting Komentar